60 Tahun Astra, Perjalanan Membangun Negeri
Oleh Ria Febrina
Tak ada yang menduga bahwa langkah pertama Astra pada 1957 merupakan langkah yang tepat karena langkah tersebut telah menjadikan Astra berdiri di tengah pasar internasional saat ini pada usia 60 tahun. Catatan tahun tersebut sangat bersejarah karena kemudian pada akhir 1960, Indonesia mendeklarasikan diri bergabung dalam Organization of Petroleum Exporting Country (OPEC). Artinya, pada tahun tersebut, Astra sendiri telah ikut mencatatkan diri dalam perjalanan pembangunan di Indonesia.
Bagaimana tidak? Deklarasi tersebut membuat Indonesia terus menjaga stabilitas minyak di negaranya. Dengan kata lain, keberadaan Astra sebagai salah satu perusahaan multinasional yang memproduksi otomotif, telah mendapat supporting dari negaranya sendiri.
Sebagai wujud apresiasi PT Astra International Incorporated kepada masyarakat Indonesia, pada 1969 dideklarasikan bahwa Astra menjadi distributor kendaraan Toyota di Indonesia. Sesungguhnya, masyarakat Indonesia sudah dibawa pada babak baru teknologi dunia. Pada 1981 tepatnya, Toyota menunjukkan dirinya dengan menjadi nama kebanggaan Indonesia. Sebuah mobil kijang keluarga diluncurkan.
Di tengah berbagai suku bangsa di Indonesia, Toyota mempersembahkan sebuah hasil karya yang mampu merekat hubungan—tidak hanya satu suku bangsa, tetapi beragam suku bangsa.
Toyota meneruka batas-batas suku bangsa yang selama ini terisolasi. Pada masa sebelumnya, hampir semua suku bangsa di Indonesia, seperti Betawi, Minangkabau, Batak, mendeklarasikan diri untuk menikah dengan sesama mereka. Namun kemudian, Toyota secara perlahan mencairkan kebekuan tersebut dengan menghadirkan sebuah kendaraan yang mampu menjadikan jarak di antara berbagai suku tersebut menjadi dekat. Prinsipnya, mengubah paradigma mobilisasi yang rumit dan mahal menjadi tradisi yang mudah dan murah.
Pada masa selanjutnya, masyarakat Indonesia dari berbagai suku bangsa mana pun mulai menyadari bahwa larangan untuk menikah dengan masyarakat dari suku bangsa lain justru menjadikan mereka semakin terisolasi dan tidak berkembang. Bahkan, larangan tersebut dianggap mengabaikan Bhinneka Tunggal Ika yang ikut dijadikan sebagai sarana untuk pemersatu bangsa. Pada titik inilah, mereka menyadari bahwa Toyota ikut berperan dalam membaurkan sejumlah suku bangsa yang dulunya menjadi satu suku yang berdiri sendiri sekarang menjadi suku bangsa yang berkembang dan menjadi Indonesia. Orang Betawi kemudian menikah dengan orang Batak, orang Minang kemudian menikah dengan orang Sunda, dan orang Aceh menikah dengan orang Jawa. Lantas, tidak ada lagi bahwa “Saya Sunda, kamu Jawa”. Akan tetapi, kita merupakan Indonesia.
Tak ada yang menduga bahwa langkah pertama Astra pada 1957 merupakan langkah yang tepat karena langkah tersebut telah menjadikan Astra berdiri di tengah pasar internasional saat ini pada usia 60 tahun. Catatan tahun tersebut sangat bersejarah karena kemudian pada akhir 1960, Indonesia mendeklarasikan diri bergabung dalam Organization of Petroleum Exporting Country (OPEC). Artinya, pada tahun tersebut, Astra sendiri telah ikut mencatatkan diri dalam perjalanan pembangunan di Indonesia.
Bagaimana tidak? Deklarasi tersebut membuat Indonesia terus menjaga stabilitas minyak di negaranya. Dengan kata lain, keberadaan Astra sebagai salah satu perusahaan multinasional yang memproduksi otomotif, telah mendapat supporting dari negaranya sendiri.
Sebagai wujud apresiasi PT Astra International Incorporated kepada masyarakat Indonesia, pada 1969 dideklarasikan bahwa Astra menjadi distributor kendaraan Toyota di Indonesia. Sesungguhnya, masyarakat Indonesia sudah dibawa pada babak baru teknologi dunia. Pada 1981 tepatnya, Toyota menunjukkan dirinya dengan menjadi nama kebanggaan Indonesia. Sebuah mobil kijang keluarga diluncurkan.
Di tengah berbagai suku bangsa di Indonesia, Toyota mempersembahkan sebuah hasil karya yang mampu merekat hubungan—tidak hanya satu suku bangsa, tetapi beragam suku bangsa.
Toyota meneruka batas-batas suku bangsa yang selama ini terisolasi. Pada masa sebelumnya, hampir semua suku bangsa di Indonesia, seperti Betawi, Minangkabau, Batak, mendeklarasikan diri untuk menikah dengan sesama mereka. Namun kemudian, Toyota secara perlahan mencairkan kebekuan tersebut dengan menghadirkan sebuah kendaraan yang mampu menjadikan jarak di antara berbagai suku tersebut menjadi dekat. Prinsipnya, mengubah paradigma mobilisasi yang rumit dan mahal menjadi tradisi yang mudah dan murah.
Pada masa selanjutnya, masyarakat Indonesia dari berbagai suku bangsa mana pun mulai menyadari bahwa larangan untuk menikah dengan masyarakat dari suku bangsa lain justru menjadikan mereka semakin terisolasi dan tidak berkembang. Bahkan, larangan tersebut dianggap mengabaikan Bhinneka Tunggal Ika yang ikut dijadikan sebagai sarana untuk pemersatu bangsa. Pada titik inilah, mereka menyadari bahwa Toyota ikut berperan dalam membaurkan sejumlah suku bangsa yang dulunya menjadi satu suku yang berdiri sendiri sekarang menjadi suku bangsa yang berkembang dan menjadi Indonesia. Orang Betawi kemudian menikah dengan orang Batak, orang Minang kemudian menikah dengan orang Sunda, dan orang Aceh menikah dengan orang Jawa. Lantas, tidak ada lagi bahwa “Saya Sunda, kamu Jawa”. Akan tetapi, kita merupakan Indonesia.
Mobilisasi ini kemudian menjadi prinsip PT Astra Internasional Incorporated untuk membangun silaturahmi yang kuat antarsuku bangsa Indonesia.
Pada babak berikutnya, Toyota kemudian menjadi patron bagi perusahaan sejenis untuk menciptakan inovasi kendaraan impian bagi keluarga. Banyak nama yang kemudian muncul, lalu tidak berarti menggeser apresiasi masyarakat. PT Astra Internasional justru kembali berinovasi dengan merujuk budaya modern yang muncul dari barat menjadi sebuah budaya yang tidak hanya merekatkan berbagai suku bangsa di Indonesia, tetapi juga dapat membangun kesejahteraan keluarga.
Di tengah-tengah euforia masuknya budaya barat ke Indonesia karena Indonesia menjadi masyarakat internasional, PT Astra Internasional kemudian memberikan pelayanan maksimal kepada wanita karier. Mereka tidak dibiarkan berada dalam kondisi ketergantungan dengan transportasi umum yang dapat menyebabkan nyawa melayang karena desakan pada jam-jam kerja tertentu. Sebab, sejumlah media massa mencatat bahwa di kota-kota besar di Indonesia, angka kematian perempuan mulai meningkat karena transportasi umum.
Kendaraan milik PT Astra Internasional Tbk tidak meramaikan jalan utama yang tidak akan bertambah lebar setiap tahunnya. Sejumlah media massa memang mengungkapkan bahwa keberadaan kendaraan di Indonesia semakin bertumpuk, terutama di jalan-jalan utama ibu kota. Namun, PT Astra Internasional justru menjadi solutif dengan menghadirkan sebuah kendaraan yang sangat fleksibel menghadapi keterbatasan sarana jalan dan mampu memperluas kesempatan bagi masyarakat Indonesia untuk berkendara.
Merujuk kepada Kota Paris, Perancis, sebagai kota terpadat di dunia, pada tahun 2001, PT Astra Internasional menghadirkan Daihatsu Ceria yang kemudian mengakomodasi sejumlah masyarakat yang mulai sibuk dengan rutinitas di kota dan juga mengakomodasi sejumlah wanita karier yang mulai turut bekerja.
Kota Paris telah membangun sebuah model berkendara di jalan raya. Setiap orang akan memilih kendaraan pribadi sehingga kendaraan akan bertumpuk. Solusinya, para ahli mengubah masalah menjadi solusi. Setiap pribadi bisa berkendara, namun dengan kendaraan mini. Mereka saling berbagi jalan raya.
Begitulah PT Astra Internasional peduli. Kehadiran Daihatsu Ceria tetap memfasilitasi pebisnis, pekerja, dan tentunya wanita karier di Indonesia untuk berkendara, tetapi tidak ikut meramaikan kemacetan. Mereka berkendara, tetapi tidak memadatkan jalan raya dengan body yang besar. Sebab, PT Astra Internasional Tbk mendesain sebuah mobil yang mampu menjadi sarana mobilisasi masyarakat Indonesia dengan fitur mini. Sesungguhnya, kehadiran Daihatsu Ceria ini telah diinovasikan dengan keberadaan sejumlah kendaraan mini di Kota Paris, Perancis. Kendaraan kecil menjadi solusi terbaik untuk menjawab keinginan masyarakat perkotaan yang membutuhkan satu kendaraan untuk satu keluarga.
Berkat kemunculan Daihatsu Ceria,
hari ini hampir seluruh keluarga Indonesia dapat menikmati mobilisasi
ke mana saja. Wanita karier yang menjadi ibu muda, tidak harus cemas
dengan cuaca. Hujan ataupun panas terik tidak menghentikan pekerjaan
mereka, serta tidak menghentikan kewajiban sebagai seorang ibu.
Selanjutnya, ibu muda Indonesia semakin dimanja dengan desain dan kenyamanan oleh kehadiran Agya dan Ayla. Dua kendaraan milik PT Astra Internasional Tbk ini menjadi kesejukan di tengah kegersangan aturan kerja. Ibu muda Indonesia bebas bekerja di kantor, di perusahaan, di sekolah, di kampus, dan di lapangan--tanpa harus khawatir meninggalkan bayi atau balita di rumah. Mereka dapat berkegiatan sekaligus membawa anak yang telah didampingi oleh salah seorang anggota keluarga atau babysister.
Selanjutnya, ibu muda Indonesia semakin dimanja dengan desain dan kenyamanan oleh kehadiran Agya dan Ayla. Dua kendaraan milik PT Astra Internasional Tbk ini menjadi kesejukan di tengah kegersangan aturan kerja. Ibu muda Indonesia bebas bekerja di kantor, di perusahaan, di sekolah, di kampus, dan di lapangan--tanpa harus khawatir meninggalkan bayi atau balita di rumah. Mereka dapat berkegiatan sekaligus membawa anak yang telah didampingi oleh salah seorang anggota keluarga atau babysister.
Ruang
duduk di dalam mobil bisa menyebabkan ibu muda ini leluasa menyusui,
menidurkan anak, bahkan rehat sejenak dari waktu ke waktu. Dengan
pendingin mobil, mereka sudah mendapatkan ruang yang nyaman seperti
kamar sendiri.
Tak hanya bekerja, ketika akhir pekan pun, bersama suami dan anak tercinta, para ibu muda ini bisa menikmati traveling dari satu desa ke desa lain, satu kota ke kota lain, bahkan satu provinsi ke provinsi lain. Kehadiran Agya dan Ayla
tidak menghambat masa akhir pekan ibu muda ke mana saja. Mereka tidak
perlu lagi berdesakan dalam bus dan khawatir dengan kencangnya mobil
travel karena keluarga inti--ayah, ibu, dan anak--sudah bisa menikmati
perjalanan akhir pekan ke mana saja. Mereka bisa berangkat kapan saja
dan beristirahat sepanjang perjalanan pergi ke berbagai tempat wisata
dan pulang kembali ke rumah dengan selamat.
Selfie atau wefi juga menjadi milik keluarga kecil Indonesia.
Sebagaimana filosofi nama agya yang diambil dari bahasa Sanskerta, yakni cepat, keluarga kecil Indonesia benar-benar merasakan kecepatan perkembangan teknologi tanpa harus khawatir merasakan kehilangan me time bersama keluarga mereka.
Kilas balik PT Astra Internasional Tbk ini telah menunjukkan betapa kehadiran Astra
telah membangun negeri, membagun Indonesia pada usia ke-60. Tahun 2017
telah menjadi puncaknya. Bersama PT Astra Internasional Tbk, satu Indonesia semakin terwujud.
-----------------------------------------------
*Ria Febrina, penulis perempuan asal Minangkabau ini telah menulis sejak 2005 dengan terlibat menjadi jurnalis sekolah di Harian Pagi Padang Ekspres, khususnya P'Mails (Padang Ekspres Media Intelektual Siswa). Sejumlah karyanya juga pernah dimuat di Harian Haluan, Harian Singgalang, dan Jurnal Bogor. Ia pernah meraih prestasi dalam sejumlah lomba menulis yang diselenggarakan pribadi dan lembaga, seperti Hanna Fransiska, Harian Singgalang, Universitas Indonesia, Balai Bahasa Padang, www.siperubahan.com, dan PT Rohto Laboratories. Sejumlah karyanya juga sudah dimuat di berbagai antologi, seperti Dua Episode Pacar Merah (Dewan Kesenian Sumatera Barat), Rumah Ibu (Ruang Kerja Budaya Sumatera Barat), dan Jemari Laurin (Balai Bahasa Padang).
Komentar
Posting Komentar