Maiza





Seseorang mengetuk pintu ketika Anne selesai mengemas makanan yang akan dibawanya ke Seberang Palinggam. Anne melirik jam dinding di dapur. Pukul satu siang. Dalam pikirannya, cepat sekali Vivian datang menjemput, meskipun Anne sadar kalau Vivian sangat kebut-kebutan membawa kendaraan.

Diingat-ingatnya lagi pertemuan mereka. Pukul dua. Lalu, siapakah yang di luar?

"Vivi, Ma?" Anne menanyakan siapa yang berada di pintu kepada mamanya.

"Bukan Vivian, Nak. Temuilah segera," jawab mamanya.

Anne merasa tidak ada membuat janji di hari sabtu ini. Sebab, dia hanya ingin menikmati hari sabtu ini dengan Vivian. Namun, senyum di wajahnya tetap terlihat meskipun di hatinya sudah mendadak ciut ketika ia melihat seorang perempuan di depannya. Maiza. Perempuan ini telah ditunggu Anne kemarin sore, tetapi tiada kabar dan akhirnya ia melupakan apa yang akan dibahas dengan Maiza.

"Masuklah," ajak Anne.

Maiza agak sedikit takut. Rasanya, ia tidak ingin menemui Anne saat ini, tetapi perasaannya justru menjadi kuat dan akhirnya ia memilih datang menemui Anne.

"Saya minta maaf harus mengganggu waktumu hari ini, Anne," Maiza berusaha membuka percakapan tentang kesalahannya yang tidak menepati janji, saat kemarin sore.

Anne abai. Ia justru tetap tersenyum dan memilih menceritakan apa yang akan dikerjakannya.

"Minggu kemarin, saya baru berkunjung ke negeri Seberang Palinggam, Maiza. Rupanya negeri itu cantik," jawab Anne, "Berada di salah satu muara di Kota Padang, dan itu pun tersudut. Terjepit di sudut Kampung China."

"Kamu tahu lagu Dayung Palinggam, Maiza? Munculnya dari negeri ini. Mungkin, dayung palinggam itulah kiranya yang menjadi muasal Festival Perahu Naga yang sedang digiatkan pemerintah Sumatera Barat di kota ini. Setiap tahun kita menyaksikannya di dekat GOR Agus Salim. Itu, bermula dari kebiasaan masyarakat padang yang suka mendayung, bersampan, di muara-muara yang terbentang di Kota Padang."

Seperti inilah Anne meneruka kotanya. Kota Persinggahan, hingga ia mencoba mencari alasan mengapa sebuah iven diadakan di kotanya. Satu jawaban baginya, hanya untuk memaksa orang-orang singgah ke kotanya. Sejenak, meskipun hanya menikmati sebuah kegiatan di sebuah muara yang mempertemukan air sungai dengan air laut di salah satu sudut Kota Padang. Di sanalah, Festival Perahu Naga setiap tahun rutin digelar oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Barat. Di Banjir Kanal GOR Agus Salim, tepatnya. Tentunya, Anne tidak akan melewatkan festival yang disajikan di kotanya ini.

"Kita sebenarnya sudah mempopulerkan kembali dayung palinggam, Maiza. Yang kini hanya berada dalam lagu itu, dirupakan menjadi kompetisi dayung antarnegara di kota kita. Hingga, kota mati ini bisa dinikmati oleh siapa saja."

Anne terus menyelipkan ceritanya sembari melakukan persiapan untuk bertemu Vivian. Maiza pun terpaksa mendengarkan dan terus mencari celah untuk berbicara dengan mengikuti Anne di belakang. Ia tidak berhenti berharap. Ia berusaha terus untuk menarik perhatian Anne.

"Anne, tentang kepala sekolah," Maiza membuka percakapan.

"Suatu saat kamu harus menyempatkan diri untuk mendayung sebuah sampan, Maiza. Vivian punya pengalaman yang kukagumi tentang ini."

Anne pun menceritakan kisah masa kecil Vivian kepada Maiza.

"Aku pun jadi teringat ketika bulan Oktober lalu bisa mencapai Kepulauan Mentawai, Maiza."

Dan sebuah desa di Kepulauan Mentawai pun terbayang oleh Anne. Selama seminggu ia sempat singgah dan menikmati berbaur dengan orang-orang di sana. Di sebelah utara Pulau Mentawai, tepatnya di Kecamatan Siberut Selatan, Anne pernah melabuhkan rasa penasarannya. Melihat bagaimana cantiknya Mentawai. Tapi, Anne tak pernah menyadari seharusnya ia bersampan di sana.

Sayang, kala itu, Anne hanya menjadi penumpang. Sampan dihidupkan dengan sebuah mesin karena jarak tempuh antardesa membutuhkan waktu yang lama. Enam jam. Ketika ia harus berangkat dari hilir menuju hulu. Sebuah desa yang bernama Magossi. Dan Anne, cukup menikmati perjalanan tersebut. Akan tetapi, ia tidak pernah terpikirkan untuk mencoba mendayung sampan tersebut--sendiri. Setidaknya antara satu tepian dengan tepian lagi, serupa dengan apa yang dilakukan Vivian di masa kecil.

Tidak, ia tidak melakukannya. Jadilah, ketika ia bertemu lagi dengan sebuah sudut di Kota Padang yang memberikan kesempatan bersampan di Desa Seberang Palinggam, Anne berkeinginan keras untuk menaikinya.

"Tidak pernah terpikirkan olehku Maiza, untuk mencoba menaiki sampan di Mentawai. Padahal, sampan menjadi satu-satunya transportasi antardesa. Dan tentulah lebih cantik sungai yang berbelok di Mentawai itu. Di kiri kanan masih terbentang hutan kecil. Arus sungai pun mengalirkan air dengan debit yang indah. Tidak seperti muara di Seberang Palinggam yang airnya mengalir dengan tenang."

"Cantik Maiza, muara dengan air berwarna coklat. Sepanjang perjalanan pun kita akan menikmati suara monyet, suara burung, dan suara babi hutan. Mereka benar-benar bernyanyi di rumahnya. Indah, dan aku justru mengabaikan itu di sana."

Anne Fleur pun duduk di pinggir kasurnya, Maiza masih mengikuti dari belakang. Maiza menarik kursi dekat meja belajar Anne dan ia menghadapkan tubuh ke tuan rumah.

"Tapi, Seberang Palinggam juga tidak kalah cantik saat aku diajak Vivian suatu malam ke sana. Bagaimana pun, aku mengakui bahwa lampu-lampu yang berupa-rupa itu memberikan cahaya yang indah di kala malam. Kita seperti bermandikan cahaya di bawahnya."

"Hari ini, aku telah menyiapkan waktu untuk ke sana, Maiza. Tadi pun juga kusiapkan penganan surabi pandan kuah. Untuk penganan sore. Engkau boleh mencicipinya. Ada di dapur. Barangkali, Mama sekarang sedang di sana. Pergilah," tawar Anne lemah lembut.

"Anne, bagaimana dengan kepala sekolah?"

Lagi-lagi, diabaikan Anne."Aku berdandan sebentar. Satu jam lagi, Vivian akan datang. Engkau temuilah Mama," paksa Anne.

Hingga Maiza pun memilih untuk diam. Dia tahu persis tabiat Anne. Jangan membahas sesuatu ketika ia tidak ingin membahasnya. Tetapi, Maiza benar-benar ingin membahasnya saat ini. Dalam kebingungan, akhirnya ia hanya menikmati Anne yang sedang merias diri di depan cermin. Ia melihat Anne menyisir rambutnya dengan perlahan sekali hingga ketika mencapai ujung, rambut hitam itu agak bersinar ketika cahaya matahari masuk di tengah-tengah mereka.

Sapuan bedak ke wajah Anne pun dinikmati Maiza tanpa berkedip. Di balik kedipan itulah, Maiza sedang berpikir keras bagaimana caranya agar ia bisa membuka obrolan kembali dengan Anne.

"Anne," dengan pelan Maiza memanggil.

Sebuah musik jazz mengalun indah dari hape Anne. Sebuah panggilan masuk. Anne bergegas dan mengangkatnya. "Vivian," ujar Anne untuk menyanggah panggilan dari Maiza.

Maiza pun menangkap pembicaraan singkat di antara mereka. Vivian sudah berangkat dari rumahnya. Sebentar lagi, ia akan sampai di rumah Anne. Maiza memang belum mengenal Vivian dengan dekat, tetapi Maiza mendapat sedikit cerita dari Anne sendiri. Cerita persahabatan antara Anne dan Vivian.

"Jika berkenan, temanilah mama di rumah. Atau, kau boleh di kamarku saja, Maiza. Boleh menonton atau membaca  buku. Dan maaf, aku harus meninggalkanmu," tutur Anne berusaha tidak menyinggung perasaan Maiza.

'Anne," panggil Maiza agak sedikit gugup.

"Hari senin kita berjumpa lagi di sekolah."

Anne mengambil tas merah, lalu menyandangnya ke kedua bahu. Ia mematut diri sejenak di depan kaca, lalu tersenyum manis ke arah Maiza.

"Aku berangkat dulu, Maiza. Lain kali akan kuajak ke Seberang Palinggam."

"Anne, maafkan aku tidak bisa hadir kemarin. Sebentar saja, izinkan aku membahas tentang kepala sekolah," akhirnya Maiza mengutarakan niatnya.

"Tentang apa itu?" Anne pura-pura menanyakan balik, "Aku sudah lupa, seperti engkau yang melupakannya kemarin. Kita berjanji pukul empat, Maiza. Aku pun sudah menunggumu sampai maghrib."

"Yah, aku cukup berbaik hati dengan berpikir positif bahwa engkau tengah mengerjakan sesuatu. Akan tetapi, aku tidak menemuimu. Sampai malam pun. Bagiku, obrolan kita sudah selesai," jawab Anne, "Hari senin kita akan bertemu lagi di sekolah."

"Anne, maafkan aku," balas Maiza.

"Setidaknya engkau bisa memberi kabar kalau tidak bisa datang. Satu jam sebelum pertemuan kita. SMS, aku pikir cukup. Atau, tag namaku di twittermu. Setidaknya aku bisa membaca alasan darimu. Dan, aku pun bisa mengerjakan hal lain, bukan?'

"Anne."

"Kau sudah tahu jawabannya. Aku pamit."

Anne membiarkan dirinya berlalu dari kamar dan membiarkan Maiza termenung. Ia mendengar sebuah suara bercakap-cakap dengan mama di lantai bawah. Vivian sudah datang. Anne pun segera mengambil sebuah kotak kemasan di dapur dan membawanya ke hadapan Vivian.

"Panekek isi keju, coklat, dan jagung. Lalu, surabi pandan kuah untuk nenekmu dan Pak Azwar."

Vivian tersenyum menyaksikan tingkah sahabatnya.

"Kita berangkat sekarang?" Anne memastikan Vivian untuk segera berangkat.

"Oke," jawabnya singkat.

Sebuah kecupan di pipi Mama.

"Mama tidak usah menunggu Anne pulang, ya! Kunci sudah Anne kantongi. Mungkin pukul sembilan malam Anne baru pulang. Boleh ya Ma, kali ini saja. Kalau mama sudah lelah, langsung istirahat! Tapi kalau mama membutuhkan sesuatu, telpon saja Anne," pamitnya.

Mama mengangguk dan tersenyum kecil membiarkan anak perempuannya pergi.

Anne meninggalkan rumah. Vivian menyertai di belakang, dan menghidupkan motor kesayangannya. Mereka berangkat ke Desa Palinggam. Anne sudah mulai tak sabar untuk menikmati sore dan malam ini.

Tanpa disadari Anne, Maiza menatap dengan air mata di balik gorden kamar tidurnya. Ia memang salah, tetapi tidak pertemuan seperti ini yang diharapkannya.



Tulisan ini juga dimuat di http://putiannefleur.blogspot.co.id/2012/11/maiza_30.html, blog kedua saya.

Komentar

Postingan Populer