Vivian
Aroma tubuhnya juga yang memenuhi kamar tidur yang diselimuti warna coklat ini. Aroma ini pun berdampingan dengan sebuah parfum pengharum ruangan yang setiap lima menit berbunyi seperti orang bersin. Bersin pengharum ruangan ini pun turut berebutan dengan aroma dengan tubuh Anne.
Anne tetap menikmati keduanya dengan bahagia.
Dengan tubuh yang masih dibalut handuk, Anne menggeraikan rambutnya yang masih basah. Tangannya tak berhenti pula mengibas rambut agar air-air yang masih singgah di rambutnya segera turun. Rambut kering, itulah yang segera diharapkannya agar ia bisa menyiapkan diri untuk berdandan. Pukul 14.00 Wib nanti, Anne akan berjumpa dengan Viana, sahabatnya. Mereka sudah membuat janji untuk bermain ke Seberang Palinggam. Sebuah desa di Padang Selatan yang menyajikan pemandangan yang memikat.
Seberang Palinggam selama ini lebih banyak dikenal oleh orang-orang melalui lagu-lagu minang.
Dayuang dayuang
Dayuang sampan didayuang
Didayuang anak Palinggam, Palinggam, anak Palinggam
Didayuang anak Palinggam, Palinggam, anak Palinggam
Elok-elok manyubarang
Jan sampai titian patah
Elok-elok di rantau urang
Jan sampai babuek salah
Lagu itu sudah sejak berada di bangku SD dihafalnya. Namun, hingga usia 20 tahun ini, dia belum juga pernah berkunjung ke Palinggam. Tapi, meski abai dan terpaksa melupakannya, Anne cukup bahagia ketika suatu malam Vivian mengajaknya mengunjungi seorang nenek di Seberang Palinggam. Nenek yang disayangi Vivian karena selama kecilnya, Vivian ikut dibesarkan olehnya. Dengan cubitan, nyinyiran, dan belaian yang masih membuatnya jatuh hati pada si nenek hingga usianya dewasa.
Pertemuan mereka itu pula yang membuat Anne Fleur memaksa Vivian untuk bertemu siang ini. Mengajaknya untuk bermain ke Seberang Palinggam. Menikmati Seberang Palinggam seperti lagu yang didengarnya. Dayuang Palinggam. Apalagi, Anne jadi terpikat dengan cerita Vivian pada masa kecilnya.
Vivian yang cantik itu cukup bandel pula ketika masih mengenakan rok merah. Sepulang sekolah, ia belajar mendayung sampan dari satu pinggiran ke seberang pinggiran lain. Dengan kebisaan itu, dia pun membujuk seorang bapak pemilik perahu untuk bersedia meminjamkannya sebuah sampan. Bukan untuk bermain lagi, tetapi untuk mendapatkan seratus rupiah. Uang dari keringat sendiri.
Di bangku kelas lima SD tepatnya. Sepulang sekolah, Vivian segera berlarian menuju tepian Seberang Palinggam. Pasalnya, Vivian sedang senang-senangnya bersampan. Akan tetapi, ia hanya dibolehkan bersampan ketika tepian sepi. Ketika tidak ada lagi orang-orang menyeberang dan sampan kosong. Kala itulah ia bisa bermain.
Menjelang saat-saat itu, Vivian akan menunggu si bapak menyelesaikan tugasnya. Sebab, dari tugas itulah si bapak mendapatkan uang untuk membeli makanan untuk ia, istri, dan anak-anaknya. Tapi, di perjalanan pulang, ia justru membayangkan bagaimana jika sore ini, ia menggantikan tugas si bapak. Agak sebentar, sampai ia merasa puas dengan mendayung sampan.
"Izinkan Vivi, Pak. Sebentar saja, biarkan Vivi yang membawa orang-orang ini ke seberang."
Bapak Azwar namanya, hanya diam memandang tubuh kecil Vivian. Tentu tak mungkin ia membiarkan gadis ini bersampan ke seberang. Meski sudah hampir sebulan ini ia melihat Vivian dengan gigih mendayung sampan. Tetap saja, Vivian adalah seorang gadis kecil. Jika abai saja sedikit waktu, Vivian bisa jatuh ke dalam sungai.
'Bapak tidak perlu khawatir. Vivi hanya akan menyeberangkan teman-teman seusia Vivi. Juga tidak banyak. Hanya dua sampai tiga orang di sampan. Vivi akan berhati-hati, Pak," bujuknya.
Pak Azwar terlalu sayang pada Vivian. Jadilah, mereka bersepakat bahwa hanya untuk dua kali penyeberangan. Sekali mengantar dua orang ke seberang, dan sekali lagi ketika Vivi harus balik ke pinggiran. Kembali ke tempat Pak Azwar.
Lonjakan senang keluar dari mulut Vivian. Si bapak hanya tersenyum dan ia membiarkan Vivi membujuk dua orang temannya untuk segera ke perahu.
"Ayo, bersampan dengan Vivi," teriaknya.
Anak-anak seusianya itu pun girang tiada terkira. Mereka berbahagia ketika di atas sampan tersebut hanya mereka bertigalah duduk dengan tenang. Vivian mendayung sampan, dan keduanya menikmati menyeberang dengan pendayung cantik serupa Vivian.
Lalu, mereka pun bernyanyi dayung palinggam. Cekikikan pun berkumandang hingga keduanya telah diantarakan Vivian sampai ke seberang.
Sepulangnya, Vivian pun mendapatkan dua orang penumpang yang hendak menyeberang. Senanglah hati Vivian karena pulang dan pergi, ia berhasil mendapatkan penumpang. Sudah terbayang pula, uang sebanyak Rp200,00 digunakannya untuk membeli kerupuk kuah sore ini.
Saat kembali ke arah Pak Azwar, Vivian sengaja memperlambat laju sampannya. Ia sudah sepakat hanya dua kali menyeberangkan penumpang. Setelah itu, ia hanya bisa melihat Pak Azwar menjalankan tugasnya. Laju sampan yang lambat, Vivian pun menyanyi kecil dan memandang sungai di bawahnya yang cukup bersih. Tidak ada sampah yang lalu lalang. Dan, Vivian pun puas menyaksikan wajah Pak Azwar yang sebenarnya harap-harap cemas menyaksikan Vivian membawa sampan. Tapi, si kecil Vivian justru memandang raut wajah Pak Azwar dengan senyum kemenangan. Berhasil kembali ke tepian dengan selamat.
"Kita sampai," teriak Vivian.
Kedua penumpangnya pun turun dan menyerahkan uang kepada Vivian. Dihitungnya, ada sekitar empat ratus rupiah dan Vivian membaginya rata dengan Pak Azwar.
"Dua ratus rupiah untuk sewa sampan, bapak. Terima kasih bapakku yang ganteng," rayu Vivian.
'Untukmu saja, Nak. Belanjakanlah," jawab Pak Azwar yang kemudian merapikan dayung yang diserahkan Vivian.
"Jangan, bapak sudah berkenan meminjamkan sampan, artinya Vivi harus berkenan membagi pendapatan.'
Jadilah, dua ratus rupiah diterima Pak Azwar dan dua ratus lagi dilihatnya di tangan Vivi dan dilambaikan kepada teman-temannya. "Hari ini aku bekerja," Vivian berlari-lari kecil dan kembali menyanyikan lagu dayuang palinggam.
Dan cerita itu pula yang memikat hati Anne. Seorang Vivian yang jelita di hadapannya kini, ternyata seorang anak perempuan yang ceria dan kreatif pada masa kecilnya. Jika tak bisa menikmati di kala kecil, saat inilah Anne ingin mencobanya.
"Sekarang sudah ada jembatan, Anne," kilah Vivian saat Anne menyatakan niatnya untuk bersampan dari satu pinggiran ke pinggiran yang lain.
"Sebuah sampan masih ada di sana, kan?" tanya Anne balik dan mendesak Vivian untuk menjawab 'iya'.
"Iya, " ujar Vivian pasrah. Ia masih melihat sampan milik Pak Azwar berada di tepian. Vivian tahu karena sudah ditanyakan kepada nenek bahwa sesekali Pak Azwar masih bersampan untuk menikmati sore di Seberang Palinggam.
"Yuk, mari kita bersampan di hari sabtu," paksa Anne. Vivian pun tidak bisa menolak. Mereka sepakat pada pekan ini dan Anne telah menyiapkan penganan sore, sebuah buku, dan baju ganti ketika nanti mereka basah-basahan sepulang bersampan.
Semenjak pagi, Anne menyiapkan hidangan sore ini. Memasak kue semacam dorayaki, panekuk yang diisi dengan coklat, jagung, dan keju di tengahnya. Lalu, surabi pandan yang berkuah yang akan diberikannya kepada Pak Azwar dan Nenek Vivian. Sebuah buku bacaan pun tak ketinggalan karena biasanya, pada sore hari, setengah sampai satu jam, Anne selalu menyempatkan diri membaca. Dan di pinggiran sungai nanti, Anne ingin menikmati satu jam sambil membaca sembari ditemani menghirup angin sungai.
Meski akan berkeringat nantinya, aroma tubuh tetap menjadi prioritas Anne. Ia harus tetap bersih dan wangi. Tak akan diizinkannya keringat singgah dan meninggalkan bau yang tidak sedap di tubuhnya. Puti Anne Fleur akan menikmati Sabtu sore dengan menyenangkan nanti bersama Vivian.
*Tulisan ini juga pernah dimuat di http://putiannefleur.blogspot.co.id/2012/11/vivian-dan-seberang-palinggam-aroma.html, blog kedua saya.
Komentar
Posting Komentar