Cinta dari
Relawan Facebook
Oleh Ria Febrina
“Uni, bagaimana kabar Uni?”
“Da Syaf sudah meninggal,” ujarnya dengan serak.
Kabar itulah yang mendesakku untuk menelepon Uni Opet, Istri
Da Syaf, pada tengah malam ini. Da Syaf meninggal dunia karena kecelakaan dalam
perjalanan dari Palembayan ke Kota Padang pada 24 Februari 2014.
“Innalilahi. Turut berduka cita, Uni,” jawabku.
“Uni Opet juga meninggal.”
Aku tersentak. Dengan siapakah aku berbicara?
“Saya adiknya Opet,” jawabnya.
“Khansa juga meninggal.”
Aku tidak percaya. Ayah, ibu, dan seorang anak perempuan meninggal
dunia.
“Uja, Uni?”
Uja adalah anak laki-laki Da Syaf.
“Uja masih kritis di Rumah Sakit M. Jamil, Padang.”
Aku menangis, tetapi aku tidak bisa berdiam diri. Setelah
menutup percakapan, aku menuju rumah sakit.
*
Di ruang HCU Anak, Uja terbaring lemah. Nafasnya turun naik tiada
henti dan sangat kencang. Darah membekas di lantai, di pembaringan, dan di
tubuhnya. Air mata tak berhenti keluar dari mata Uja. Kedua tangannya seperti
menggenggam tangan ayah, ibu, dan adik perempuannya. Seorang anak berusia 10
tahun kesakitan dengan kepala yang bocor. Tempurung kepala Uja masuk ke dalam
bagian otak, dan sebaliknya bagian otak menyembul ke bagian permukaan kepala. Miris
sekali.
Merasakan apa yang Uja rasakan, aku menulis status di facebook.
“Uja sayang, yang kuat ya! Tante dan orang-orang yang
menyayangi Uja berada di sebelah Uja.”
Demikianlah, hingga status itu membuahkan simpati banyak
orang.
Ketika sahabat ayah Uja menggalang dana, aku juga bertindak
melalui facebook. Aku menulis sebuah cerita.
Hanya beberapa menit, aku menerima banyak pesan di facebook. Salah satunya, seniorku di kampus, Almiza Dona—yang saat
itu tengah berada di Jepang—mengirim pesan via inbox. Dia mengirimkan bantuan
1juta rupiah. Lalu, teman-teman SMA-ku—kita saja sudah lama tidak berkomunikasi—juga
ikut bersimpati. Bahkan, teman facebook yang
tak kukenal, bersahabat untuk membantu. Hari itu rasanya semangatku tumbuh
sebagai seorang relawan. Aku pun menggencarkan aksi. Anugerah Tuhan. Banyak
orang diketukkan hatinya hingga terkumpul dana sekitar 20juta dalam waktu dua
hari. Hanya saja, kami harus ikhlas. Uja meninggal dunia, tepat tiga hari
semenjak kematian ayah, ibu, dan adik perempuannya.
Berhentikah kami di sini?
Tidak, rasa simpati membuat kami semakin bersemangat. Di
Palembayan, makam ayah, ibu, Uja, dan Khansa berada di perbukitan. Bahkan, sebuah
SD berdiri di sana. Sekolah tersebut belum memiliki fasilitas yang layak,
terutama jalan menuju sekolah. Dengan persetujuan dari relawan facebook dan relawan nyata, disepakati
untuk membangun jenjang berbahan semen menuju SD tersebut. Kini, meskipun kami
kehilangan keluarga ini, kami mendapatkan keluarga baru. Relawan facebook dan anak-anak yang siap
melangkah menimba ilmu. Aku belajar satu hal bahwa cinta bisa tumbuh dari mana
saja, termasuk dari dunia facebook—yang
bahkan kita pun tidak pernah saling menggenggam tangan, tetapi Tuhan
mengetukkan untuk saling menggenggam hati.
*Tulisan ini ditulis berdasarkan kisah nyata atas kehilangan seorang sahabat, Uda Syafrizal, yang meninggal dunia sekeluarga akibat kecelakaan.

Komentar
Posting Komentar