H. C. Anderson dan Keberadaan Cerita Anak Kita
Oleh Ria Febrina
H.C. Andersen. Sebuah nama yang kita dijumpai melalui karyanya Gadis Penjual Korek Api dan Pakaian Baru Kaisar. Nama lengkapnya, Hans Christian Andersen, besar sebagai penulis cerita anak dengan karyanya yang telah diterjemahkan ke dalam 150 bahasa, termasuk bahasa Indonesia.
Anak-anak yang tumbuh hingga tahun 1990-an, mengenal nama dan karyanya. Hans bermukim di pikiran anak-anak, karena cerita yang dihasilkan tak hanya pada tingkat sisi baik dan sisi buruk, tetapi bagaimana tokoh di dalamnya bangkit ketika melewati masa sulit. Karya yang menginspirasi dan menyorot kealpaaan kita sebagai manusia, karena Hans menanamkan pula nilai filsafat yang sederhana. Dalam ceritanya, Hans memandang setiap anak memiliki masa depan yang berbeda. Ia akan melewati kehidupan yang sebenarnya. Maka, cerita Hans tentang anak- anak dengan kesusahan hidupnya disoroti untuk dijadikan pembelajaran.
Hans lahir dan menghabiskan masa kanak-kanaknya di sebuah kawasan kumuh di kota Odense, Denmark. Padatnya rumah-rumah dan sulitnya ekonomi yang ia jalani, menjalarkan sikap optimis dari kisah yang ditulisnya. Hans tak bersekolah. Sejak kecil, ia diinspirasi oleh dongeng yang diceritakan ayahnya. Ayahnya memang pencinta sastra dan sering mengajak Hans menonton pertunjukkan sandiwara. Hans juga mengenal berbagai cerita dongeng dari sang bunda, Anne Marie Andersdatter, yang sangat mempercayai takhayul. Hingga akhirnya membuat Hans berkenalan dengan cerita rakyat.
Hans, yang tumbuh dalam dunia sastra lisan, mampu membangkitkan sense of literaturenya.
Dalam otobiografi, "The True Story of My Life" yang terbit tahun 1846, H.C. Andersen menulis, "Ayah memuaskan semua dahagaku. Ia seolah hidup hanya untukku. Setiap Minggu ia membuatkan gambar-gambar dan membacakan cerita-cerita dongeng”.
Cerita sastra yang didapatkan dari ayahnya, menginspirasi Hans menuliskan cerita-cerita yang mengandung nilai edukatif dan nilai imajinatif. Tak bisa disangkal, cerita-cerita dongengnya dilanjutkan oleh penulis cerita anak sesudahnya. Hans disebut-sebut menanamkan pengaruh pada penulis cerita di Eropa, seperti Charles Dickens, pengarang Inggris yang terkenal dengan karyanya Petualangan Tom dan Sawyer.
Hans dan Charles Dickens adalah dua orang penulis cerita anak yang terkenal lebih dari seratus negara. Lahirnya Hans dan Dickens mampu menginspirasi anak-anak untuk mengenal bacaan sastra. Pada usia ini, anak-anak (usia yang dapat kita kategorikan hingga masa 12 tahun) memiliki rasa ingin tahu mereka terhadap bacaan, dan dapat diselamatkan oleh cerita-cerita terjemahan yang dihadirkan Hans dan Dickens.
Seperti Hans yang menikmati cerita rakyat dan pertunjukan sandiwara, anak-anak Indonesia juga menikmati kisah yang dituturkan secara lisan. Di Indonesia, awal tumbuhnya bacaan anak bermula dari cerita rakyat, legenda, mitos dan dongeng. Tradisi lisan ini tumbuh dengan subur. Dari generasi ke generasi, kita menikmati sastra, mendengarkan cerita dan memperoleh amanat dari keberadaan sastra lisan tersebut.
Pada masa setelah ditemukannya mesin cetak, dan masyarakat Indonesia telah mengenal budaya baca, kisah tersebut dituliskan. Bacaan untuk anak-anak pun tumbuh dan berkembang. Penulis cerita anak bermunculan. Indonesia mengenal Djoko Lelono, Dwiyanto Setyawan, Soekanto S.A., Arswendo Atmowiloto, dan Danarto.
Arswendo Atmowiloto dikenal dengan serial Imung, Kiki dan Komplotannya, dan Keluarga Cemara. Karya Arswendo Atmowiloto ini menjadi inspirasi untuk anak-anak tahun 1990-an. Melalui cerita yang berlatar keluarga, ia membubuhkan cerita yang bernuansa edukatif. Meski nilai imajinatif tak terlalu mendominasi dalam karyanya, namun karya Arswendo mampu menarik perhatian anak, remaja dan orang tua pada masanya.
Di era 1980-an, cerita-cerita petualangan karya Djoko Lelono atau Dwiyanto Setyawan, Soekanto S.A., dan pengarang lainnya yang tidak lagi dikenal oleh anak-anak zaman sekarang, sempat berjaya. Pada dekade 1970 hingga 1980-an, kabarnya ada proyek yang menyemangati beberapa penerbit dan pengarang Indonesia untuk menerbitan buku-buku, termasuk bacaan untuk anak. Namun, proyek besar itu kemudian kandas di tengah jalan, beriringan dengan menyurutnya kualitas buku-buku itu sendiri.
Jumlah penerbit yang kemudian mengkhususkan diri dalam pengadaan buku anak-anak bisa dihitung dengan jari. Menurut catatan IKAPI, dari 330 penerbit yang terdaftar, 110 di antaranya kini sudah gulung tikar. Sementara dari sisanya, hanya 20% atau sekitar 60 penerbit yang berani menerbitkan buku 15 judul setahun. Dari jumlah itu, hanya 30% buku yang ditujukan untuk anak-anak (Kompas, 12 Agustus 1993).
Awal tahun 2000-an, situasi penerbitan buku-buku di Indonesia kembali bergejolak. Banyak bacaan menjajari pasar, menggairahkan minat orang untuk membeli. Bacaan populer tumbuh dan menggaet segmen, khususnya remaja dan anak-anak. Harry Potter muncul dengan 1000 halamannya—ukuran yang cukup tebal, namun mampu menarik minat anak-anak untuk membaca. Meski bacaan ini tak dapat dikategorikan sebagai cerita anak, karena alurnya yang kompleks dan rumit, namun menyorot perhatian. Sementara itu, karya-karya asli Indonesia ini tidak banyak ditemui. Hal ini diakui karena adanya pengaruh dari luar negeri, setelah masuknya komik, dan mewabahnya tayangan televisi.
Bacaan anak yang tumbuh pada masa dekade 2000-an seharusnya menjadi catatan bagi penulis cerita anak di Indonesia. Buku terjemahan—yang dikemas dengan cerita yang sejujurnya belum bisa ditangkap oleh anak-anak usia hingga 12 tahun tadi, seperti Harry Potter, Detektif Conan, dan Naruto—menjadi populer, meski karya di dalamnya tak memenuhi kriteria cerita untuk anak. Cerita ini kuat karena imajinasi yang dilahirkan penulisnya. Cerita dari luar negeri ini lahir sebagai cerita asyik-asyik yang dapat dinikmati di waktu senggang.
Munculnya buku bacaan ini menggeserkan hakikat bacaan sastra untuk anak yang bernilai imajinatif dan edukatif. Kita tak banyak menemukan bacaan sastra yang tepat untuk anak. Ada cerita yang ditulis dengan menggunakan tokoh kartun, namun isinya memuat pesan dan kehidupan tentang orang dewasa. Ada kisah yang ditulis untuk anak-anak, menggunakan tokoh anak, namun masih dikemas dengan konflik yang dialami orang dewasa, sehingga turut mengacaukan psikologis anak.
Demi mempertahankan Indonesia yang kaya dengan kekhasan budaya, penerbit mencetak ulang legenda, mitos dan dongeng, menjadi dongeng klasik. Cerita anak yang lainnya lahir dengan kisah yang berangkat dari dunia realitas, seperti Lupa si Pelupa, Let’s Go Fatimah, Ketut Alit dan Cenik Si Barong Mini, Konrad si Anak Instant, Tolong-Menolong, Didi Anak Rajin, Akibat Berjajan dan Kupu-Kupu yang Indah, yang menawarkan pesan dan nilai moral—ini baik itu tidak. Di dalam cerita anak Indonesia, nilai-nilai kebajikan ini sangat mendominasi. Penulis Indonesia terbuai dengan persoalan budaya, dan sangat berbeda dengan pengarang Barat yang mendidik anak mengenai makna dari merasakan ketakutan dan melakukan kesalahan, yang nantinya diharapkan membimbing mereka untuk mandiri dan mampu mengambil keputusan.
Deskripsi tersebut menjelaskan, hanya sedikit bacaan sastra yang imajinatif, yang mampu menggairahkan anak dan memicu mereka untuk menghargai kehidupan. Hanya sedikit penulis seperti Hans yang mengungkap dongeng anak-anak, sekaligus melahirkan cerita khayali yang lahir dari buah pikiran yang imajinatif. Hans yang lahir dan menghabiskan masa kanak-kanaknya di rumah yang padat di jalan Hans Jensens Straede pada masa 200 tahun lalu, dapat menuntunnya untuk memperoleh inspirasi bagi dongeng-dongeng karyanya.
Penulis Indonesia, yang lahir dari kekayaan dan keberagaman budaya, seharusnya mampu memancing mereka untuk menghasilkan karya yang menjadi ruh dari dongeng anak-anak Indonesia. Keberadaan bacaan sastra untuk anak-anak Indonesia seharusnya menjadi lebih baik, karena cerita anak itu bukan hanya bergerak hitam putih, pada sisi baik dan sisi buruk, namun bagaimana ceritanya mampu menginspirasi anak-anak untuk menghargai kehidupan. Meski telah ada Laskar Pelangi, namun segmennya belum tepat ditujukan untuk anak-anak.
Singkatnya, sebuah deskripsi tentang keberadaan bacaan sastra untuk anak di Indonesia itu masih kurang. Kita perlu mencipta, mengarang dan menghasilkan bacaan untuk anak-anak Indonesia. Peluang pun sebenarnya terbuka dengan lebar. Penerbit di Indonesia kini sedang berlomba-lomba untuk menghadirkan berbagai bacaan menarik untuk anak. Namun, jika melihat buku-buku cerita anak populer yang banyak memenuhi rak-rak toko buku saat ini, sebagian besar adalah karya sastra terjemahan, yang banyak dipopulerkan Disney, hingga Avatar: The Legend of Aang, Naruto, dan SpongeBob Squarepants yang diadaptasi dari serial televisi.
Jika penulis Indonesia mampu menggugah anak-anak dengan imajinasi berpikirnya anak-anak—meskipun ada serial kartun di televisi—tentunya bacaan anak tetap akan dilirik. Penulis Indonesia menyimpan potensi untuk mewartakan ini, karena bacaan yang imajinatif itu ada jika kita mulai mencipta, mengarang dan menghadirkannya untuk anak-anak Indonesia.
*Tulisan ini pernah dimuat di Harian Pagi Padang Ekspres dan ketika tulisan ini dimuat masih menjadi mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Andalas.
Oleh Ria Febrina
H.C. Andersen. Sebuah nama yang kita dijumpai melalui karyanya Gadis Penjual Korek Api dan Pakaian Baru Kaisar. Nama lengkapnya, Hans Christian Andersen, besar sebagai penulis cerita anak dengan karyanya yang telah diterjemahkan ke dalam 150 bahasa, termasuk bahasa Indonesia.
Anak-anak yang tumbuh hingga tahun 1990-an, mengenal nama dan karyanya. Hans bermukim di pikiran anak-anak, karena cerita yang dihasilkan tak hanya pada tingkat sisi baik dan sisi buruk, tetapi bagaimana tokoh di dalamnya bangkit ketika melewati masa sulit. Karya yang menginspirasi dan menyorot kealpaaan kita sebagai manusia, karena Hans menanamkan pula nilai filsafat yang sederhana. Dalam ceritanya, Hans memandang setiap anak memiliki masa depan yang berbeda. Ia akan melewati kehidupan yang sebenarnya. Maka, cerita Hans tentang anak- anak dengan kesusahan hidupnya disoroti untuk dijadikan pembelajaran.
Hans lahir dan menghabiskan masa kanak-kanaknya di sebuah kawasan kumuh di kota Odense, Denmark. Padatnya rumah-rumah dan sulitnya ekonomi yang ia jalani, menjalarkan sikap optimis dari kisah yang ditulisnya. Hans tak bersekolah. Sejak kecil, ia diinspirasi oleh dongeng yang diceritakan ayahnya. Ayahnya memang pencinta sastra dan sering mengajak Hans menonton pertunjukkan sandiwara. Hans juga mengenal berbagai cerita dongeng dari sang bunda, Anne Marie Andersdatter, yang sangat mempercayai takhayul. Hingga akhirnya membuat Hans berkenalan dengan cerita rakyat.
Hans, yang tumbuh dalam dunia sastra lisan, mampu membangkitkan sense of literaturenya.
Dalam otobiografi, "The True Story of My Life" yang terbit tahun 1846, H.C. Andersen menulis, "Ayah memuaskan semua dahagaku. Ia seolah hidup hanya untukku. Setiap Minggu ia membuatkan gambar-gambar dan membacakan cerita-cerita dongeng”.
Cerita sastra yang didapatkan dari ayahnya, menginspirasi Hans menuliskan cerita-cerita yang mengandung nilai edukatif dan nilai imajinatif. Tak bisa disangkal, cerita-cerita dongengnya dilanjutkan oleh penulis cerita anak sesudahnya. Hans disebut-sebut menanamkan pengaruh pada penulis cerita di Eropa, seperti Charles Dickens, pengarang Inggris yang terkenal dengan karyanya Petualangan Tom dan Sawyer.
Hans dan Charles Dickens adalah dua orang penulis cerita anak yang terkenal lebih dari seratus negara. Lahirnya Hans dan Dickens mampu menginspirasi anak-anak untuk mengenal bacaan sastra. Pada usia ini, anak-anak (usia yang dapat kita kategorikan hingga masa 12 tahun) memiliki rasa ingin tahu mereka terhadap bacaan, dan dapat diselamatkan oleh cerita-cerita terjemahan yang dihadirkan Hans dan Dickens.
Seperti Hans yang menikmati cerita rakyat dan pertunjukan sandiwara, anak-anak Indonesia juga menikmati kisah yang dituturkan secara lisan. Di Indonesia, awal tumbuhnya bacaan anak bermula dari cerita rakyat, legenda, mitos dan dongeng. Tradisi lisan ini tumbuh dengan subur. Dari generasi ke generasi, kita menikmati sastra, mendengarkan cerita dan memperoleh amanat dari keberadaan sastra lisan tersebut.
Pada masa setelah ditemukannya mesin cetak, dan masyarakat Indonesia telah mengenal budaya baca, kisah tersebut dituliskan. Bacaan untuk anak-anak pun tumbuh dan berkembang. Penulis cerita anak bermunculan. Indonesia mengenal Djoko Lelono, Dwiyanto Setyawan, Soekanto S.A., Arswendo Atmowiloto, dan Danarto.
Arswendo Atmowiloto dikenal dengan serial Imung, Kiki dan Komplotannya, dan Keluarga Cemara. Karya Arswendo Atmowiloto ini menjadi inspirasi untuk anak-anak tahun 1990-an. Melalui cerita yang berlatar keluarga, ia membubuhkan cerita yang bernuansa edukatif. Meski nilai imajinatif tak terlalu mendominasi dalam karyanya, namun karya Arswendo mampu menarik perhatian anak, remaja dan orang tua pada masanya.
Di era 1980-an, cerita-cerita petualangan karya Djoko Lelono atau Dwiyanto Setyawan, Soekanto S.A., dan pengarang lainnya yang tidak lagi dikenal oleh anak-anak zaman sekarang, sempat berjaya. Pada dekade 1970 hingga 1980-an, kabarnya ada proyek yang menyemangati beberapa penerbit dan pengarang Indonesia untuk menerbitan buku-buku, termasuk bacaan untuk anak. Namun, proyek besar itu kemudian kandas di tengah jalan, beriringan dengan menyurutnya kualitas buku-buku itu sendiri.
Jumlah penerbit yang kemudian mengkhususkan diri dalam pengadaan buku anak-anak bisa dihitung dengan jari. Menurut catatan IKAPI, dari 330 penerbit yang terdaftar, 110 di antaranya kini sudah gulung tikar. Sementara dari sisanya, hanya 20% atau sekitar 60 penerbit yang berani menerbitkan buku 15 judul setahun. Dari jumlah itu, hanya 30% buku yang ditujukan untuk anak-anak (Kompas, 12 Agustus 1993).
Awal tahun 2000-an, situasi penerbitan buku-buku di Indonesia kembali bergejolak. Banyak bacaan menjajari pasar, menggairahkan minat orang untuk membeli. Bacaan populer tumbuh dan menggaet segmen, khususnya remaja dan anak-anak. Harry Potter muncul dengan 1000 halamannya—ukuran yang cukup tebal, namun mampu menarik minat anak-anak untuk membaca. Meski bacaan ini tak dapat dikategorikan sebagai cerita anak, karena alurnya yang kompleks dan rumit, namun menyorot perhatian. Sementara itu, karya-karya asli Indonesia ini tidak banyak ditemui. Hal ini diakui karena adanya pengaruh dari luar negeri, setelah masuknya komik, dan mewabahnya tayangan televisi.
Bacaan anak yang tumbuh pada masa dekade 2000-an seharusnya menjadi catatan bagi penulis cerita anak di Indonesia. Buku terjemahan—yang dikemas dengan cerita yang sejujurnya belum bisa ditangkap oleh anak-anak usia hingga 12 tahun tadi, seperti Harry Potter, Detektif Conan, dan Naruto—menjadi populer, meski karya di dalamnya tak memenuhi kriteria cerita untuk anak. Cerita ini kuat karena imajinasi yang dilahirkan penulisnya. Cerita dari luar negeri ini lahir sebagai cerita asyik-asyik yang dapat dinikmati di waktu senggang.
Munculnya buku bacaan ini menggeserkan hakikat bacaan sastra untuk anak yang bernilai imajinatif dan edukatif. Kita tak banyak menemukan bacaan sastra yang tepat untuk anak. Ada cerita yang ditulis dengan menggunakan tokoh kartun, namun isinya memuat pesan dan kehidupan tentang orang dewasa. Ada kisah yang ditulis untuk anak-anak, menggunakan tokoh anak, namun masih dikemas dengan konflik yang dialami orang dewasa, sehingga turut mengacaukan psikologis anak.
Demi mempertahankan Indonesia yang kaya dengan kekhasan budaya, penerbit mencetak ulang legenda, mitos dan dongeng, menjadi dongeng klasik. Cerita anak yang lainnya lahir dengan kisah yang berangkat dari dunia realitas, seperti Lupa si Pelupa, Let’s Go Fatimah, Ketut Alit dan Cenik Si Barong Mini, Konrad si Anak Instant, Tolong-Menolong, Didi Anak Rajin, Akibat Berjajan dan Kupu-Kupu yang Indah, yang menawarkan pesan dan nilai moral—ini baik itu tidak. Di dalam cerita anak Indonesia, nilai-nilai kebajikan ini sangat mendominasi. Penulis Indonesia terbuai dengan persoalan budaya, dan sangat berbeda dengan pengarang Barat yang mendidik anak mengenai makna dari merasakan ketakutan dan melakukan kesalahan, yang nantinya diharapkan membimbing mereka untuk mandiri dan mampu mengambil keputusan.
Deskripsi tersebut menjelaskan, hanya sedikit bacaan sastra yang imajinatif, yang mampu menggairahkan anak dan memicu mereka untuk menghargai kehidupan. Hanya sedikit penulis seperti Hans yang mengungkap dongeng anak-anak, sekaligus melahirkan cerita khayali yang lahir dari buah pikiran yang imajinatif. Hans yang lahir dan menghabiskan masa kanak-kanaknya di rumah yang padat di jalan Hans Jensens Straede pada masa 200 tahun lalu, dapat menuntunnya untuk memperoleh inspirasi bagi dongeng-dongeng karyanya.
Penulis Indonesia, yang lahir dari kekayaan dan keberagaman budaya, seharusnya mampu memancing mereka untuk menghasilkan karya yang menjadi ruh dari dongeng anak-anak Indonesia. Keberadaan bacaan sastra untuk anak-anak Indonesia seharusnya menjadi lebih baik, karena cerita anak itu bukan hanya bergerak hitam putih, pada sisi baik dan sisi buruk, namun bagaimana ceritanya mampu menginspirasi anak-anak untuk menghargai kehidupan. Meski telah ada Laskar Pelangi, namun segmennya belum tepat ditujukan untuk anak-anak.
Singkatnya, sebuah deskripsi tentang keberadaan bacaan sastra untuk anak di Indonesia itu masih kurang. Kita perlu mencipta, mengarang dan menghasilkan bacaan untuk anak-anak Indonesia. Peluang pun sebenarnya terbuka dengan lebar. Penerbit di Indonesia kini sedang berlomba-lomba untuk menghadirkan berbagai bacaan menarik untuk anak. Namun, jika melihat buku-buku cerita anak populer yang banyak memenuhi rak-rak toko buku saat ini, sebagian besar adalah karya sastra terjemahan, yang banyak dipopulerkan Disney, hingga Avatar: The Legend of Aang, Naruto, dan SpongeBob Squarepants yang diadaptasi dari serial televisi.
Jika penulis Indonesia mampu menggugah anak-anak dengan imajinasi berpikirnya anak-anak—meskipun ada serial kartun di televisi—tentunya bacaan anak tetap akan dilirik. Penulis Indonesia menyimpan potensi untuk mewartakan ini, karena bacaan yang imajinatif itu ada jika kita mulai mencipta, mengarang dan menghadirkannya untuk anak-anak Indonesia.
*Tulisan ini pernah dimuat di Harian Pagi Padang Ekspres dan ketika tulisan ini dimuat masih menjadi mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Andalas.

Komentar
Posting Komentar