Musik Tradisi di Sawahlunto International Music Festival 2010
Oleh Ria Febrina
Di kota yang dijuluki Belanda kecil, dihelat pertemuan tiga belas musisi dari tiga benua, yakni Asia, Afrika, dan Eropa. Perhelatan yang menyajikan musik tradisi dari negara masing-masing musisi tersebut terdokumenter dalam Sawahlunto International Music Festival (SIMFes) pada 3-5 Desember 2010 lalu. Mereka adalah Mohamad Faizal (Singapura), Klaus de Geiger (Jerman), Sarangerel Tserevtsamba (Mongolia), Aly Keïta (Afrika), Minangapentagong Jazzetnik (ISI Padang Panjang-Sumatera Barat), LaGandie (ISI Padang Panjang-Sumatera Barat), Togat Nusa (Mentawai), Talago Buni (ISI Padang Panjang), Kelompok Kreatif (FBS-UNP, Sumatera Barat), Kota Arang Perkusi (Sawahlunto), Suarasama (Medan), Keroncong Toegoe (Jakarta), serta Etnik Melaka (Malaysia).
Setiap musisi membawakan musik tradisi dari negara masing-masing. Ada Mohamad Faizal dengan alat musik guzheng, Klaus de Geiger dengan alat musik biola, Sarangerel Tserevtsamba membawakan alat musik joochin, dan Aly Keita yang membawakan alat musik balaphon.
Dari musisi Sumatera Barat, beragam alat musik seperti saluang, bansi, agong, perkusi gandang tambua dan gandang jin (gendang kreasi Talago Buni), rapa’i (rebana kecil), perkusi logam, canang (seperti bonang dalam gamelan Jawa), dan lainnya juga turut ditampilkan. Bahkan, Irwansyah Harahap yang tampil bersama sang istri Rithaony Hutajulu juga membawakan alat musik Turki, di samping alat musik gambus. Juga Togat Nusa dengan alat musik tradisi gong dan tuddukat. Meski menjadi barang yang sangat berharga bagi orang Mentawai, mereka dengan ikhlas berbagi pengalaman mengenai musik etnik Mentawai.
Melalui komposisi musik dari para musisi ini, musik etnik dari daerah masing-masing bergaung di kota Sawahlunto. Baik masyarakat awam, musisi, budayawan, dan banyak orang turut serta menikmati musik etnik kontemporer. SIMFes ini menyajikan bahwa komposisi musik tidak melihat barat atau timur, tetapi melihat apa yang ingin dicapai oleh masing-masing komposer.
Minangapentagong misalnya, sebagai anak timur atau anak Minangkabau, mereka membesarkan musik Minangkabau. Bahkan, dalam penampilannya, mereka tidak hanya sekedar memoles, tetapi membesarkan musik tradisi yang ada Minangkabau itu sendiri dengan kekinian, sebab memasukkan unsur jazz dalam memadukan musik tradisi. Melalui jazz etnik kontemporer, Minangapentagong mengangkat berbagai repertoar musik etnik Minangkabau.
Sementara itu, Talago Buni terlihat padu mengolah berbagai kemungkinan bermusik dalam spirit musik Minang sebagai dasar pijakan tradisi. Meski sebenarnya atmosfer itu tak jelas terlihat di atas panggung sederhana, namun nuansa itu terwakili oleh beragam instrumen etnis Minang, seperti gandang tambua, gandang jin, kacapi, rabab, biola, gambus, talempong, rapa’i, yang ditata sedemikian rupa di antara beberapa alat musik tiup, saluang, sarunai, dan bansi.
Ini menyatakan bahwa musik Minangkabau bisa berkolaborasi dengan musik apapun.
Iven serupa SIMFes ini tentunya sudah seharusnya diselenggarakan di Sumatera Barat, sebab di Sumatera Barat tumbuh beragam musik tradisi dengan sangat baik. Apalagi semakin hari para musisi juga mengembangkan pengalaman budayanya dalam bermusik. Sejak dulu hingga sekarang, berbagai genre musik tradisi Minang telah mengambil peran di berbagai bidang kehidupan. Minangkabau telah menumbuhkan dirinya dengan tradisi, dengan alat musik, serta genre musik yang unik dan beragam.
Ketika iven ini diselenggarakan, regenerasi perkembangan musik tradisi Minang juga tampak menggeliat. Sebab, sejumlah mahasiswa dari Intitusi Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang dan Universitas Negeri Padang (UNP) turut serta menyajikan penafsiran baru terhadap musik tradisi yang ada. Dengan bermodalkan pengalaman budaya terhadap alat musik, serta genre musik yang ada, mereka menampilkan sesuatu yang energik, dipertunjukkan dengan segar, sehingga secara perlahan menjembatani keingintahuan generasi muda lainnya untuk mengetahui alat musik yang digunakan dan musik yang dimainkan dalam pertunjukan tersebut.
Inilah yang berhasil dari SIMFes, peserta membawakan musik tradisi dengan kekinian, yang tidak monoton, karena masing-masing menafsir ulang lagi tradisi musik mereka dengan garapan yang energik. Itulah kekinian, yang akhirnya menyambungkan kembali jarak antara musik tradisi yang dikenal ‘kuno’ bagi generasi hari ini.
Iven ini juga menjadi penunjuk ‘jalan’ untuk mendekatkan musik tradisi dengan generasi muda. Sebab, generasi muda sudah terperdaya oleh musik populer, musik dagang, atau musik konsumtif. Mereka yang tidak punya plilihan, tentunya hanya bisa menikmati sajian musik populer tersebut. Akan tetapi, akan berbeda pengalaman budayanya ketika para seniman menyajikan penafsiran yang baru dari musik tradisi yang ada.
Generasi muda harus mendapatkannya kembali. Para senimanlah yang harus menyadari bahwa ada sebuah tanggung jawab untuk menjembatani kembali musik tradisi yang ada kepada generasi muda hari ini. Generasi yang sedang digencar oleh dunia online, dunia instan, huru hara, dan kesenangan sesaat.
SIMFes ini tentunya sudah memulai. Kita sudah diberikan semacam antibiotik. SIMFes sudah memberikan atau mengantisipasi pemahaman anak-anak muda yang sudah cyber, yang sudah asosial, dan dengan iven ini. Secara perlahan, mereka bisa memahami kembali musik tradisi yang ada di lingkungan sekitar.
Dan alangkah baiknya jika setiap kota di Sumatera Barat menganggarkan biaya untuk festival semacam ini. Sawahlunto dalam hal ini telah menjadi landmark, memulai sebuah terobosan yang bagus untuk berbagi pengalaman budaya kepada generasi muda.
Tak hanya itu, apresiasi yang bagus terhadap seni dan budaya juga sudah dimulai oleh walikota Sawahlunto, Amran Nur. Terwujud sebuah apresiasi yang patut dibanggakan ketika sepanjang iven SIMFes 2010, Walikota Sawahlunto turut menonton pertunjukan. Tak berhenti, mulai dari pembukaan sampai penutupan. Tak terlewatkan pula satu pertunjukan apapun.
Untuk seni dan budaya, apresiasi ini patut pula dicontoh oleh banyak pejabat, yang biasanya menggantikan kehadiran dengan perwakilan. Semestinya, iven yang telah direncanakan sampai setahun lamanya ini memang harus ditonton oleh yang berwenang, sehingga tampak pula bahwa banyak hal yang perlu didukung untuk iven selanjutnya.
Meskipun demikian, tetap banyak hal yang perlu digarap ulang untuk SIMFes 2011.
Dan akhirnya, banyak orang yang menunggu persembahan musik tradisi lainnya. Tak hanya melalui Sawahlunto saja, seperti SIMFes 2010. Banyak yang berharap akan ada perhelatan musik tradisi Minangkabau, yang dihelat oleh Batusangkar, Bukittinggi, Padang Panjang, Solok, Padang, dan lainnya. Perhelatan ke tingkat internasional. Dengan harapan, agar musik tradisi yang dikemas dengan cara kekinian dilirik kembali, sehingga mulai lagi apresiasi bertalu-talu tumbuh di ranah Minang.
*Tulisan ini pernah dimuat di Koran Haluan.
Oleh Ria Febrina
Di kota yang dijuluki Belanda kecil, dihelat pertemuan tiga belas musisi dari tiga benua, yakni Asia, Afrika, dan Eropa. Perhelatan yang menyajikan musik tradisi dari negara masing-masing musisi tersebut terdokumenter dalam Sawahlunto International Music Festival (SIMFes) pada 3-5 Desember 2010 lalu. Mereka adalah Mohamad Faizal (Singapura), Klaus de Geiger (Jerman), Sarangerel Tserevtsamba (Mongolia), Aly Keïta (Afrika), Minangapentagong Jazzetnik (ISI Padang Panjang-Sumatera Barat), LaGandie (ISI Padang Panjang-Sumatera Barat), Togat Nusa (Mentawai), Talago Buni (ISI Padang Panjang), Kelompok Kreatif (FBS-UNP, Sumatera Barat), Kota Arang Perkusi (Sawahlunto), Suarasama (Medan), Keroncong Toegoe (Jakarta), serta Etnik Melaka (Malaysia).
Setiap musisi membawakan musik tradisi dari negara masing-masing. Ada Mohamad Faizal dengan alat musik guzheng, Klaus de Geiger dengan alat musik biola, Sarangerel Tserevtsamba membawakan alat musik joochin, dan Aly Keita yang membawakan alat musik balaphon.
Dari musisi Sumatera Barat, beragam alat musik seperti saluang, bansi, agong, perkusi gandang tambua dan gandang jin (gendang kreasi Talago Buni), rapa’i (rebana kecil), perkusi logam, canang (seperti bonang dalam gamelan Jawa), dan lainnya juga turut ditampilkan. Bahkan, Irwansyah Harahap yang tampil bersama sang istri Rithaony Hutajulu juga membawakan alat musik Turki, di samping alat musik gambus. Juga Togat Nusa dengan alat musik tradisi gong dan tuddukat. Meski menjadi barang yang sangat berharga bagi orang Mentawai, mereka dengan ikhlas berbagi pengalaman mengenai musik etnik Mentawai.
Melalui komposisi musik dari para musisi ini, musik etnik dari daerah masing-masing bergaung di kota Sawahlunto. Baik masyarakat awam, musisi, budayawan, dan banyak orang turut serta menikmati musik etnik kontemporer. SIMFes ini menyajikan bahwa komposisi musik tidak melihat barat atau timur, tetapi melihat apa yang ingin dicapai oleh masing-masing komposer.
Minangapentagong misalnya, sebagai anak timur atau anak Minangkabau, mereka membesarkan musik Minangkabau. Bahkan, dalam penampilannya, mereka tidak hanya sekedar memoles, tetapi membesarkan musik tradisi yang ada Minangkabau itu sendiri dengan kekinian, sebab memasukkan unsur jazz dalam memadukan musik tradisi. Melalui jazz etnik kontemporer, Minangapentagong mengangkat berbagai repertoar musik etnik Minangkabau.
Sementara itu, Talago Buni terlihat padu mengolah berbagai kemungkinan bermusik dalam spirit musik Minang sebagai dasar pijakan tradisi. Meski sebenarnya atmosfer itu tak jelas terlihat di atas panggung sederhana, namun nuansa itu terwakili oleh beragam instrumen etnis Minang, seperti gandang tambua, gandang jin, kacapi, rabab, biola, gambus, talempong, rapa’i, yang ditata sedemikian rupa di antara beberapa alat musik tiup, saluang, sarunai, dan bansi.
Ini menyatakan bahwa musik Minangkabau bisa berkolaborasi dengan musik apapun.
Iven serupa SIMFes ini tentunya sudah seharusnya diselenggarakan di Sumatera Barat, sebab di Sumatera Barat tumbuh beragam musik tradisi dengan sangat baik. Apalagi semakin hari para musisi juga mengembangkan pengalaman budayanya dalam bermusik. Sejak dulu hingga sekarang, berbagai genre musik tradisi Minang telah mengambil peran di berbagai bidang kehidupan. Minangkabau telah menumbuhkan dirinya dengan tradisi, dengan alat musik, serta genre musik yang unik dan beragam.
Ketika iven ini diselenggarakan, regenerasi perkembangan musik tradisi Minang juga tampak menggeliat. Sebab, sejumlah mahasiswa dari Intitusi Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang dan Universitas Negeri Padang (UNP) turut serta menyajikan penafsiran baru terhadap musik tradisi yang ada. Dengan bermodalkan pengalaman budaya terhadap alat musik, serta genre musik yang ada, mereka menampilkan sesuatu yang energik, dipertunjukkan dengan segar, sehingga secara perlahan menjembatani keingintahuan generasi muda lainnya untuk mengetahui alat musik yang digunakan dan musik yang dimainkan dalam pertunjukan tersebut.
Inilah yang berhasil dari SIMFes, peserta membawakan musik tradisi dengan kekinian, yang tidak monoton, karena masing-masing menafsir ulang lagi tradisi musik mereka dengan garapan yang energik. Itulah kekinian, yang akhirnya menyambungkan kembali jarak antara musik tradisi yang dikenal ‘kuno’ bagi generasi hari ini.
Iven ini juga menjadi penunjuk ‘jalan’ untuk mendekatkan musik tradisi dengan generasi muda. Sebab, generasi muda sudah terperdaya oleh musik populer, musik dagang, atau musik konsumtif. Mereka yang tidak punya plilihan, tentunya hanya bisa menikmati sajian musik populer tersebut. Akan tetapi, akan berbeda pengalaman budayanya ketika para seniman menyajikan penafsiran yang baru dari musik tradisi yang ada.
Generasi muda harus mendapatkannya kembali. Para senimanlah yang harus menyadari bahwa ada sebuah tanggung jawab untuk menjembatani kembali musik tradisi yang ada kepada generasi muda hari ini. Generasi yang sedang digencar oleh dunia online, dunia instan, huru hara, dan kesenangan sesaat.
SIMFes ini tentunya sudah memulai. Kita sudah diberikan semacam antibiotik. SIMFes sudah memberikan atau mengantisipasi pemahaman anak-anak muda yang sudah cyber, yang sudah asosial, dan dengan iven ini. Secara perlahan, mereka bisa memahami kembali musik tradisi yang ada di lingkungan sekitar.
Dan alangkah baiknya jika setiap kota di Sumatera Barat menganggarkan biaya untuk festival semacam ini. Sawahlunto dalam hal ini telah menjadi landmark, memulai sebuah terobosan yang bagus untuk berbagi pengalaman budaya kepada generasi muda.
Tak hanya itu, apresiasi yang bagus terhadap seni dan budaya juga sudah dimulai oleh walikota Sawahlunto, Amran Nur. Terwujud sebuah apresiasi yang patut dibanggakan ketika sepanjang iven SIMFes 2010, Walikota Sawahlunto turut menonton pertunjukan. Tak berhenti, mulai dari pembukaan sampai penutupan. Tak terlewatkan pula satu pertunjukan apapun.
Untuk seni dan budaya, apresiasi ini patut pula dicontoh oleh banyak pejabat, yang biasanya menggantikan kehadiran dengan perwakilan. Semestinya, iven yang telah direncanakan sampai setahun lamanya ini memang harus ditonton oleh yang berwenang, sehingga tampak pula bahwa banyak hal yang perlu didukung untuk iven selanjutnya.
Meskipun demikian, tetap banyak hal yang perlu digarap ulang untuk SIMFes 2011.
Dan akhirnya, banyak orang yang menunggu persembahan musik tradisi lainnya. Tak hanya melalui Sawahlunto saja, seperti SIMFes 2010. Banyak yang berharap akan ada perhelatan musik tradisi Minangkabau, yang dihelat oleh Batusangkar, Bukittinggi, Padang Panjang, Solok, Padang, dan lainnya. Perhelatan ke tingkat internasional. Dengan harapan, agar musik tradisi yang dikemas dengan cara kekinian dilirik kembali, sehingga mulai lagi apresiasi bertalu-talu tumbuh di ranah Minang.
*Tulisan ini pernah dimuat di Koran Haluan.

Komentar
Posting Komentar