musim menyusu


Ria Febrina

aku melukis tubuhmu dalam mataku yang tak pernah bisa membedakan malu dan mau. hanya tanganmu yang berbicara, merangkul kepalaku dengan kasih yang kurasakan sebagai air mata. ketika kulitku lesut, kau merabanya dengan kepang rambutmu yang sepinggang, menahan sakit yang menghadang di atas perut, di mana jahitanmu masih menyisakan lukaluka tentang malam yang bisu.

kau tak peduli dengan dingin yang diam, sementara orangorang menghimpit tangannya di atas guling, mendengkurkan igau agar tak ada yang semayam malam itu. kau dengan mata yang masih menyipit mendiamkan suara  yang haus. gelisahmu kau ketepikan, antara debar dan bunyi lapar yang mulai memergoki mulutmu.

dalam bedung yang kau lilit dengan kainpanjang, kau melepaskanku dengan senyuman. aku tak bisa menangis, sebab ada yang mengalir di antara payudaramu, yang kunisbahkan sebagai darahku. tangan kananmu membuka baju hingga ke bahu, sementara tangan kirimu menahan tubuhku yang masih lunak, mengkerut dan belum kuat dagingnya. engkau yang mendekatkannya pada ujung yang mengeluarkan airsusu. kau tahan ujungnya agar tak menetes ke mataku. saat itu aku merasakan lembutnya cintamu, ketika ada air memasuki mulutku yang hanya bisa meminta darimu. aku menghirupnya, karena Tuhan menciptkannya untukku, yang lebih beruntung dari anak kucing yang mengeong menanti ibunya menyelesaikan makan, agar ada airsusu di tubuhnya.

tak ada lelah bagimu ketika bulan ketujuhbelas, mulutku membuatmu tak bisa menahan ujungnya yang membiru. gigiku mulai tumbuh. aku tak menikmatinya seperti usiaku sebulan dulu. aku mulai mempermainkan air yang berwarna putih di ujungmu, yang mulai sedikit meneteskannya untukku.

aku mengeak sesukaku, padahal dalam matamu ada haru.

April-Mei, 2009

*Sajak ini menjadi sepuluh naskah pemenang lomba menulis puisi untuk ibu yang diselenggarakan oleh sastrawan Hanna Fransiska.

Komentar

Postingan Populer